Ged a Widget

Jumat, 28 Desember 2012

love that i should have

Cerpen oleh Bella Danny JusticeLOVE THAT I SHOULD HAVE
Cerpen oleh Hafnita Putri
            Sekeras apa pun aku mencoba, aku tetap tidak bisa melupakan bayangan pria itu. Karena saat itulah pertama kalinya aku merasakan getar cinta, ya..walau kata orang yang lebih tua adalah cinta-monyet, tapi aku pikir yang aku alami ini berbeda. Awal masa SMP ku dulu penuh dengan kecerian dan kebahagiaan. Aku punya orangtua yang begitu perhatian terhadapku. Sampai peristiwa tragis itu datang menimpaku yang duduk di kelas 8. Sulit tentunya bagiku untuk melupakan kejadian yang terjadi terhadap kedua orangtuaku. Mereka meninggal ketika sedang dalam perjalanan akan menjemput aku dari rumah tante Karina.


            Hidupku diselimuti oleh awan gelap. Sejak itu aku menjadi anak yang pendiam dan lebih suka menyendiri. Karena sikapku lah akhirnya teman-teman menjauhi aku. Dan dalam keadaanku yang dirundung pilu inilah, pria itu, Ivan, datang menyelamatkan aku yang terjebak jauh di dasar lembah kekelaman. Beruntunglah dia sekelas denganku. Dia orang yang sangat unik. Auranya begitu cerah dan hangat. Setiap orang yang ada didekatnya pasti merasa senang. Aku melihat dengan siapa saja ia berbicara. Mereka yang kala itu berbincang dengan Ivan selalu menampilkan senyum lebar sambil mata yang disipitkan.
            Sampai pada suatu saat, dijam istirahat sekolah, hanya aku yang berada dikelas dengan Ivan sedangkan yang lainnya pergi ke kantin. Aku tau ia sedang tidur, ia menaruh kepalanya diatas meja dan melipat kedua tangannya. Kepalanya menghadap ke arah kiri, tepat kearahku. Momen itu benar-benar membuat rasa penasaranku semakin memuncak. Pada saat tertidur saja ia dapat menarik perhatian orang yang melihatnya! Kemudian aku menghampirinya. Aku memperhatikan wajahnya yang sedang berada dialam mimpi. Dia begitu tampan, populer, dan tentunya...sangat hangat.
            “apa kau sangat menyukai wajahku?” katanya sambil masih memejamkan mata. Aku terkaget mendengar ucapannya. Ternyata ia tau bahwa aku memperhatikannya? Aku sungguh malu sekali!
            Ia membuka kelopak matanya dan menatapku. Aku pun berkata: “siapa yang suka?! Aku hanya sedang lewat dan ingin pergi ke kantin.”
            Sekarang ia sudah dalam posisi duduk yang benar, tapi ia terus menghujamku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membuatku gugup. “ingin pergi ke kantin ya? Bukankah kau selama ini tidak bereaksi terhadap siapa pun dan apa pun yang dilakukan orang-orang disekitarmu? Kau tau, terjebak dalam suatu masalah dan tak mampu untuk keluar dari masalah tersebut adalah hal yang sangat mengerikan, lebih mengerikan dari kau ditolak orang yang kau sukai.” Mendengar ucapan yang sangat dewasa terlontar dari bibirnya, mataku langsung terbelalak. Orang ini tidak seperti yang lainnya. Aku rasa kehidupanku tak akan sama lagi.
            Perlahan aku mulai merajut tali pertemanan diantara kita. Hari demi hari ku lewati penuh dengan senyuman bersamanya. Aku dapat merasakan diriku yang dulu mulai muncul. Aku kembali aktif dan teman-teman yang lainpun sepertinya merindukan diriku yang sesaat menghilang. Aku bisa seperti ini berkat dia. Siapa lagi kalau bukan Ivan dan wejangan-wejangannya setiap hari yang selalu mengiang ditelingaku.
            Tetapi yang kutakutkan pun terjadi. Perasaan yang semula hanya sebagai teman tumbuh melebihi batasnya. Aku menyukainya! Meskipun begitu, aku tidak berani mengatakannya. Karena Ivan seorang yang populer bahkan dikalangan kakak kelas. Semua murid perempuan disekolahku berebut untuk menjadi orang yang spesial dihati Ivan. Tidak sedikit dari mereka yang berwajah cantik, pintar, dan mempunyai keahlian dibidangnya masing-masing seperti melukis, bermain musik, dll. Namun, yang aku tau, tidak ada satupun dari mereka yang diterima oleh Ivan.
            Siang itu aku menerima telfon dari kakak kelasku perempuan. Aku terhentak mendengar pertanyaannya.
            “hei, apa kau ada hubungan spesial dengan Ivan?”
            “t-tidak, aku hanya berteman dengannya.”
            “apa kau menyukainya?”
            “...........”
            “hei, aku tanya apa kau menyukainya?!”
            “aku..... tidak menyukainya.”
            “baiklah kalau begitu.”
            Entah mengapa setelah menerima telfon dari kakak kelas itu perasaanku jadi tidak tenang. Keesokan harinya, saat aku sedang berjalan menuju kelas melalui koridor sekolah, aku mendengar berita bahwa Ivan berpacaran dengan seorang kakak kelas. Pikiranku otomatis langsung menerka-nerka kalau kakak kelas yang berpacaran dengan Ivan adalah orang yang menelfonku kemarin. T-tapi, kenapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu? Apa Ivan mengatakan sesuatu kepadanya?
            Semenjak itu juga lah aku tidak pernah lagi berbicara ataupun bertegur-sapa dengan Ivan. Ia seperti menghindar, dan aku pun menghindarinya. Aku sangat menyukainya, tapi aku sadar orang yang ia sukai yaitu kakak kelas tersebut. Aku tidak punya hak untuk bersikap egois seperti ini. Aku ingin terbangun dari mimpi ini!!!!
            “aku kira kau akan mati karena bermimpi, kalau begitu aku akan langsung menghubungi cinta pertamamu di masa SMP itu.” cela Vivian kepadaku.
Aku memimpikan masa itu lagi. Sudah beberapa kali ini terjadi ketika aku merindukannya. Tak terasa 6 tahun sudah terlewati bersama dengan kenangan tentang pria yang kusukai itu. Kini aku seorang mahasiswi yang menekuni fakultas Sastra Jepang. Aku suka membaca manga atau komik. Dan Vivian adalah teman terbaikku yang pernah ku miliki. Ia satu jurusan denganku, tetapi ia sudah ingin cepat-cepat magang ke Jepang dan akan berangkat 1 bulan lagi. Aku juga mempunyai keinginan yang sama seperti Vivian, tapi aku rasa belum saatnya bagiku untuk meninggalkan Indonesia. Masih ada yang harus aku selesaikan.
“ahh..kepalaku sedikit sakit.” Erangku sambil menyentuh kepalaku yang terasa pening.
“oh ya, tadi ku lihat ada pesan tuh dihapemu.” Ucap Vivian yang menggandeng tasnya.
“pesan dari siapa?” katanya lagi.
Tanpa menunggu lama aku menekan tombol Open dan ternyata pesan dari teman SMP-ku Florentina yang mengingatkan akan berlangsungnya acara Reuni SMP kelasku. Ini menegangkan sekali. Reuni SMP kelasku, kelas 8-1, kelasku dulu bersama Ivan. Hari itu akhirnya tiba.
Vivian mengawasi hapeku dan rupanya ia juga ikut membaca pesan dari Florentina. “waaw, jadi ga sabar besok nih ya mau ketemu pujaan hati? Kaya apa ya dia sekarang? Tambah ganteng atau tambah jelek? Hehe..” Vivian memang paling rajin kalau meledekku. Padahal sendirinya ia pun belum punya pacar.
“kau itu kalau bicara jangan sembarangan! Sudah ah, aku mau pulang.” Menghindari Vivian sejauh mungkin adalah jurus yang jitu. Kalau tidak, wajahku pasti langsung memerah karena ia terus menggodaku tentang masa lalu.
***
            Reuni SMP kami diadakan di sebuah kafe. Florentina sudah mengurus semuanya dari sebulan sebelumnya. Ini pertama kalinya kami bertemu kembali, walaupun ada beberapa yang tidak dapat hadir tapi aku sangat senang bisa melihat wajah-wajah teman SMP-ku yang dulu lugu sekarang begitu berubah drastis.
            Dia tidak ada. Aku mencari-cari sosoknya tapi sepertinya ia tidak hadir. Aku sedikit kecewa, padahal ini kesempatanku untuk beretemu dengannya setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Apa yang menghalanginya? Apa dia terlalu sibuk dengan dunianya? Aku tidak ingin ambil pusing.
            Acara reuni kami pun berjalan dengan lancar. Kami benar-benar menikmati suasana keakraban yang terjalin malam itu. Tawa dan canda menghiasi ruangan yang sudah kami pesan. Meskipun bahagia, aku tetap merasa ada yang kurang. Aku ingin bertemu dengannya. Tapi kenapa dia mengabaikan acara reuni yang mempertemukan kami? Apa dia tidak ingin bertemu denganku?
            “Sevilla, ada apa denganmu? Apa acaranya tidak menyenangkan?” aku tidak sadar ternyata Florentina mendekatiku dan berbicara denganku.
            “ah, tidak..acaranya meriah sekali. Aku suka.” Jawabku agak sedikit kaku.
            “ah, aku tau! Kau pasti gelisah karena Ivan tidak datang. Betul, bukan? Ayo mengaku saja. Hehe” candanya sambil menyenggol sikutku beberapa kali karena aku tidak menjawabnya.
            Dengan tersipu aku mengatakannya. “iya. Apa kau tau mengapa ia tidak hadir?” tanyaku serius.
            “dia...” belum selesai Florentina menyempurnakan kalimat perkataannya seseorang menjawabnya.
            “aku disini.” Kata orang itu.
            “ah itu dia! Ivan kau telat 1 jam! Apa kau tidak tau Villa gelisah menunggumu?! Dasar kau tukang telat!”oceh Florentina seketika itu juga saat ia melihat Ivan sudah datang.
“Flo! Ucapanmu berlebihan, aku tidak segelisah yang kau katakan. Kau, tau?!” bantahku dengan cepat. Aku tidak mau Ivan melayang ke angkasa sedangkan aku malu karena perkataan Florentina.
“sudahlah, kalian gunakan momen ini untuk berbincang-bincang. 6 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk kalian berpisah. Aku akan mengurus anak-anak yang lainnya.” Ujar Florentina yang melemparkan handuk kecil pada Ivan lalu pergi meninggalkan kami di atap kafe berdua.
Aku sungguh gugup dan tidak tau mau mulai pembicaraan dari mana. Untunglah Ivan adalah orang yang asik, jadi tanpa terlihat kikuk ia mengajakku kembali ke masa dulu SMP. Mengenang semua yang pernah terjadi, dan kelucuan-kelucuan kami ketika masih memakai seragam putih biru. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan kepada Ivan. Aku menyimpan rasa penasaran ini sejak lama. Aku ingin mengetahui kebenarannya. Lalu aku pun memberanikan diri bertanya pada laki-laki itu.
“kau ingat, dulu saat SMP kau pernah berpacaran dengan seorang kakak kelas kita?”
“tentu. Ada apa?”
“ada seorang kakak kelas yang menelfonku waktu itu, dia menanyakan hubunganku denganmu. Dia juga bertanya apa aku suka padamu atau tidak. Apa dia adalah pacarmu? Kakak kelas yang sama dengan orang yang menelfonku?”
“iya..”
“tapi kenapa dia bertanya seperti itu kepadaku? Apa kau mengatakan sesuatu kepadanya? Kalau ia suka padamu, kenapa tidak langsung mengatakannya?”
“bodoh...apa kau sebodoh itu?”
“a-apa maksudmu?”
“aku menyukaimu. Sejak dulu...itu sebabnya aku meminta dia menanyakannya padamu, tapi ternyata kau hanya menganggapku sebagai teman. Dan itu juga yang membuatku jengkel. Aku dulu masih penuh dengan emosi. Setelah tau ternyata kau menganggapku hanya sebagai teman, aku pun memutuskan untuk berpacaran dengan kakak kelas itu dan menjauhimu...”
“a-apa? K-kau menyukaiku? Sejak dulu?”
“ya. Aku minta maaf karna sudah menyakiti hatimu. Aku menghindarimu karna aku ingin melupakanmu. Tetapi, sampai detik ini, aku bahkan belum bisa menghapus bayangmu dari fikiranku. Aku selalu bermimpi bertemu denganmu. Aku ingin mengatakan perasaanku padamu, tapi aku tidak tau info apapun tentangmu sampai Florentina mengadakan reuni ini. Kau tau selama 1 bulan aku menyiapkan diri matang-matang untuk berani menyatakan perasaanku padamu. Hehe”
Aku memeluknya. Mendekapnya erat dan menangis di pundaknya. Aku tidak mengira reuni ini akan sangat berkesan. Ivan yang dingin dan cuek mengungkapkan seluruh perasaannya kepadaku. 6 tahun penantianku selama ini tidak berakhir menyedihkan. Aku tidak bisa berkata-kata aku sangat bahagia malam itu. Mengetahui bahwa ia juga menyukaiku sungguh sebuah anugrah. Aku tidak akan melepaskanmu lagi Ivan. Sudah cukup masa-masa kelam diantara kita. Sekarang yang akan ada hanyalah kebahagiaan.
“aku juga menyukaimu, kau tau?! Tapi aku tidak mengatakannya karna kau terlalu cuek jadi aku takut kau akan menolakku dulu. Andai saja dulu aku tau kau juga menyukaiku aku tidak harus menunggu selama ini bukan?” ucapku sambil tetap memeluk Ivan.
Ivan tertawa dalam pelukanku. Begitu indah dan membuatku tenang. “haha Villa, kau tidak berubah. Aku sangat mencintaimu...tapi biar bagaimanapun, aku bersyukur karna penantian kita tidak sia-sia. Aku benar-benar bersyukur...terimakasih Tuhan.”

Akhir Kisah Kita (cerpen)



Pagi ini matahari baru muncul dari ufuk Timur. Kaca jendela rumahku masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang. Pagi ini rasanya malas sekali keluar dari tempat tidurku dan pergi ke sekolah. Kalau tidak dibangun paksa ibu,aku pasti bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya ayah mengantarku ke SMA 123 yang cukup terkenal di Bandung. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju kelas. Aku mengumpat “Huh,masih harus naik 2 anak tangga lagi,bakalan terlambat nih!”. Sesampainya di pintu kelas,ternyata bu Murni sudah mengabsen muridnya dari tadi. Bu Murni yang melihatku diluar kelas langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku depan kelasku dan menunggu sampai pelajaran Biology selesai. “Aduh,sial banget sih aku hari ini!Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dirumah”,aku memaki diriku sendiri.
            Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak laki” berlari lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Kemal! Jadi dia telat juga”,teriakku. Kemal adalah teman yang paling pintar dikelasku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cowok yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Murni udah masuk kelas ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu”pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai bel pelajaran pertama usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol,sekaligus nanya soal mtk. Dia kan emang paling jago mtk dikelasku. “Eh,kamu udah ngerjain tugas Mtk belum?Boleh nanya gak?”tanyaku. “Sudah, lo mau nanya?Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh,sibuk apanya?!Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.”kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai bel pelajaran pertama usai.
    Kriiiiiiiiiiiing. Bu Marni pun keluar dari kelas. Aku dan Kemal segera masuk dan duduk ditempat duduk kami. Saat pelajaran Mtk pun di juga nyebelin setengah mati.”Sssst,Kemal. Tunjukkin rumus yang nomor 2 dong”,kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih.Pasti lo gak merhatiin guru nerangin tadi ya?Lo cari aja di buku!Salah lo sendiri gak merhatiin”,bukannya ngasih tau,dia malah marah-marah.Aku udah kesel banget. Sampai saat bel jam pulang pun aku masih kesal dengan Kemal. Saat jalan kaki menuju rumahku,aku marah” gak jelas. “Ih,salah apa sih aku sama Kemal!Kok dia jahat amat sih.Aku doa’in dia dapat musibah”,kutukku. Eh,gak taunya malah aku yang jatuh. Gara gara marah marah aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh!Rasanya sakit banget.Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh!Mau berapa lama lo diem disitu”,kulihat arah sura itu berasal.Ternyata……Kemal! “Bisa berdiri gak?”,tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku,rasanya sakit sekali.Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan menggendongku ke belakang. Aku kaget,baru kali ini aku digendong,sama cowok pula!Dan cowok yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam,meskipun dia nyebelin,tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya.Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh,rumah lo dimana sih? Dideket sini ya?,tannyanya. “Iya,diperumahan sana belok kiri,terus dipertigaan belok kanan.Nyampe deh”,ujarku. “Oh,terus kenapa lo bisa jatoh tadi?dasar bego!”katanya. “Gak kok,tadi cuma kepeleset aja”kataku berbohong.Gak mungkinkan aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Kemal,aku mau nanya,kok kamu sentimen sih sama aku tadi di sekolah. Aku kan cuma nannya baik baik,jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen”kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh.Abis lo sih!Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu”katanya “Serius nih?Berarti kita udah temenan kan?”ujarku berseri seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe.Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun”. Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang pincang aku masuk kerumah. Hari ini seneng banget!
    Semenjak kejadian itu sikap Kemal kepadaku berubah.Kami jadi akrab.Main bareng bareng,jajan bareng bareng,belajar bareng bareng,tidurpun bareng bareng(haha,gak mungkin lah). Tapi semenjak sebulan terakhir,Kemal menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cewek berkulit putih dan cantik didepan gereja seusai dia berdo’a. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Allah,salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Allah. Jikalau kami berjodoh nanti,maka dekatkanlah kami”,aku berdo’a khusyuk sekali.
    Seminggu berlalu Kemal tidak masuk sekolah.Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak “Kemal,kamu kok sebulan ini ngehindari aku sih?Terus kok bisa dirawat dirumah sakit?Sakit apa?”,tanyaku cemas.Kemudian dia memegang tanganku.Aku kaget,tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “La,gue pengen ngomong jujur ke elo.Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke elo.Gue sayang sama elo!”. Aku kaget bukan main.Jantungku berdegup kencang.Kemal?Suka sama aku? Impossible! “Ah,kamu.Jangan bercanda?Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda”,kataku masih tak percaya. “Gak,gue gak sedang bercanda.Gue suka sama elo La. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan.Dan gue tau itu salah.Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa sayang gue ke elo. Dan juga sekarang gue kena penyakit Kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini”katanya. Apa!Kemal kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Mal,aku tau kita gak seiman.Aku meyakini Allah S.W.T sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Isa Al-Masih sebagai Tuhanmu.Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh,Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini”,kataku sesegukan. “La,udah jangan nangis.Gue gak suka liat lo nangis.”katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong,kamu harus kuat.Kemal yang kukenal adalah cowok yang kuat dan gak pernah mau kalah”,kataku berusaha tersenyum. “La,kamu mau gak nurutun permintaan ku. Satuuuu aja”,pintanya. Aku mengangguk,ini kali pertamanya di bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku sholat,aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 18 tahun.Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri.Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Islam.Dan aku mencintaimu hanya karena Allah”katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin sholat dan ingin masuk islam. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berwudhu. Lalu mengajarinya sholat. Setelah itu sayup sayup kudengar dia mengucapkan “asyhadu an-laa ilaaha illallaa, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Aku kaget bukan main.Ternyata dia hafal 2 kalimat syahadat tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi jadinya. Tapi aku tau,ini sudah takdir Allah. Aku tak boleh menyesalinya. Kemal….adalah cowok pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang Muslim






TAMAT

Jumat, 14 Desember 2012

Senja Di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

Renungan Indah

W.S. Rendra (Alm.)



Seringkali aku berkata,

Ketika semua orang memuji milikku


Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan

Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya

Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya


Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:

Mengapa Dia menitipkan padaku ?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?


Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku


Aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak popularitas, dan

kutolak sakit,

kutolak kemiskinan,

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku


Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.


Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,

Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku



Gusti,

Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja

"Puisi untuk si kecil"

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu
Maka ibu akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah

Sembilan bulan nak,… engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata…

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun

Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah… saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu

Anakku,…
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan

Anakku,…